"Sebuah Konsorsium Para Filsuf Amatir"

Kamis, 04 Januari 2018

WANITA DAN TAFSIR TENTANG SEKS (1)


oleh: Ach Dhofir Zuhry.


Memandang kemolekan seorang gadis—zaman dulu harus susah-susah tiarap di bibir sungai dan tubir danau mengintip kulit-kulit mulus yang sedang mandi dan mencuci, saat ini cukup berselancar di internet untuk terhubung dengan segala keindahan wanita—ibarat memandang Tuhan. Manusia (khususnya) kaum pria adalah penafsir paling otentik dari keindahan Tuhan yang ber-tajalli pada sosok wanita.

Wajah, dada, paha dan kelamin sebagai pusat kosmos wanita memancarkan cahaya Tuhan yang paling kompleks, tak habis-habis ditafsir dan juga dieksploitir. Bukan semata karena umat manusia pernah bertapa dan lalu keluar dari gua garba itu, tetapi juga karena keindahan tak terperi yang sungguh menyilaukan akal budi. 
Tak usah jauh-jauh pada wanita yang tingkat kemakhlukannya sangat tinggi, sedangkan sinar matahari yang notabene makhluk yang lebih rendah dari manusia saja sudah terlalu menyilaukan mata. Maka, mata tak boleh telanjang, hakikat tak layak diungkap. Syariat pandangan pria akan sangat berbahaya jika memandang hakikat ketelanjangan wanita.
Bayangkan, cahaya matahari saja sudah sungguh-sungguh menerangi dan lalu menghidupi seluruh bumi, bahkan menembus ke palung-palung laut dan hingga planet terjauh di tatasurya ini. Apapun yang dilalui sinar matahari akan sumringah menjadi tumbuh, hijau dan ranau. Tak ayal, matahari yang kerap memata-matai hari ditabalkan sebagai lambang kehidupan, harapan akan kemakmuran. Lantas, bagaimana dengan wanita? Wanita dan pusat kosmos kelaminnya adalah kehidupan itu sendiri. Kelahiran dan kematian manusia, sejarah yang terjarah, kemajuan dan kemunduran, semua berawal dari rahim wanita. Itulah mengapa Tuhan memilih memantulkan terang cahaya dan cerlang sinarnya yang paling paripurna pada wanita, bukan lelaki.
Sama dengan cahaya yang dititipkan Tuhan pada matahari berupa sinar ultraviolet, cahaya wanita juga bisa menjadi rahmat dan malapetaka. Anda perhatikan, misalnya, manakala pabrik-pabrik, rumah-rumah kaca dan gedung-gedung pencakar langit yang congkak tak mampu "mengelola" kemurahan cinta-kasih cahaya matahari, malapetaka berupa polusi, pemanasan global, radiasi dan rusaknya lapisan ozon akan terjadi. Pun juga dengan wanita, cahaya dari rahim yang terpancar ke sekujur tubuh perempuan adalah rahmat dan pantulan cahaya Tuhan. Lantas?
Cahaya wajah cantik, cahaya dada yang elok, cahaya paha yang anggun, semua berasal dari cahaya gua garba atau kelamin wanita yang benderang. Tuhan telah merancang sperma, labia mayor, klitoris, rahim, ovum, zigot, sampai manjadi manusia sempurna. Dan lalu Tuhan memuliakan kaum Hawa dengan mempercayakan mereka mengandung dan menanggung segala derita demi kelahiran manusia-manusia luhur atau sekadar pembabaran para begundal dan bromocorah. Di rahim kokoh penuh cerlang gemilang itulah nasib-nasib umat manusia ditentukan, ditiupkan roh suci Tuhan, sampai-sampai cahaya wanita-wanita hamil mengalahkan terang purnama.
Pantas, jika kaum pria memperebutkan dan rela menyabung nyawa demi wanita, itu semata karena cahaya dari "pusat kosmos" bernama rahim, yang di permukaan hanya tampak sebagai vagina, terutama bagi mata-mata jalang yang kerap serampangan dan ugal-ugalan. Tapi, apakah pembahasan ini tidak lantas melecehkan Tuhan dengan kelamin dan selangkangan?
Baiklah, begini mulanya. Wanita mewakili keindahan Tuhan, sementara itu, lelaki hanya bertugas membaca, menerjemah dan menafsirkan keindahan itu dalam kehidupan sosial dan konstelasi budaya.
Tuhanlah yang merancang dan menciptakan serta lalu memberi cahaya pada kelamin wanita beserta rimbun misteri yang melingkupinya. Tuhan meninggikan derajat wanita jika ia menjaga "nukleus" itu dan sebaliknya wanita akan lebih rendah dari setan dan binatang jika mengumbar "titipan cahaya" itu di sembarang tempat. Oleh karena itu, tidak ada ruang pornografis dalam tulisan ini, mangapa? Porno itu terjadi kalau Anda dan semua pria salah tafsir soal wanita, terutama anatomi fisiknya. Mengapa salah tafsir? Tentu saja karena keliru dalam meramu dan memaknai hakikat cahaya (keindahan) dengan realitas kegelapan (nafsu). Sekali lagi, berhati-hatilah menjadi panafsir.
Kita tentu masih ingat betapa peringatan Tuhan justru berbunyi, "jangan dekati zina" dan bukan, "jangan berzina!" Artinya, zina itu akibat dari perbuatan mendekati. Mendekati dengan apa? Dengan segala kreativitas budaya manusia yang mengorientasikan segala kemungkinan untuk berzina: baik dengan wanita, kebudayaan, dengan agama, dengan sejarah, peradaban dan bahkan berzina dengan tanah-airnya sendiri, sehingga lahirlah malapetaka-malapetaka sistemik dan reproduksi keculasan-keculasan yang hipokrit.
Wal hasil, penafsir-penafsir modern dan milenial ini cenderung ugal dan serampangan: pria gagal dan salah tafsir terhadap wanita, sementara wanita salah tafsir soal diri dan cahayanya sendiri. Tiba-tiba, kita mendapati para pemuja selangkangan di mana-mana. Dan, sejarah serta peradaban modern kita dewasa ini adalah tentang selangkangan. 


Salam Takzim



Popular Posts

Blogroll

Blogger templates

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Profiles

TwitterFacebookGoogle PlusLinkedInEmail

Info

Lorem ipsum no has veniam elaboraret constituam, ne nibh posidonium vel.

Cari Blog Ini

Find Us On Facebook

Featured Video

Featured Video

About

   
WhatsApp Dp

Pages - Menu

Popular Posts