WANITA DAN TAFSIR TENTANG SEKS (1)
oleh: Ach Dhofir Zuhry.
Memandang
kemolekan seorang gadis—zaman dulu harus susah-susah tiarap di bibir sungai dan
tubir danau mengintip kulit-kulit mulus yang sedang mandi dan mencuci, saat ini
cukup berselancar di internet untuk terhubung dengan segala keindahan
wanita—ibarat memandang Tuhan. Manusia (khususnya) kaum pria adalah penafsir
paling otentik dari keindahan Tuhan yang ber-tajalli pada sosok wanita.
Wajah, dada,
paha dan kelamin sebagai pusat kosmos wanita memancarkan cahaya Tuhan yang
paling kompleks, tak habis-habis ditafsir dan juga dieksploitir. Bukan semata
karena umat manusia pernah bertapa dan lalu keluar dari gua garba itu, tetapi
juga karena keindahan tak terperi yang sungguh menyilaukan akal budi.
Tak usah
jauh-jauh pada wanita yang tingkat kemakhlukannya sangat tinggi, sedangkan
sinar matahari yang notabene makhluk yang lebih rendah dari manusia saja sudah
terlalu menyilaukan mata. Maka, mata tak boleh telanjang, hakikat tak layak
diungkap. Syariat pandangan pria akan sangat berbahaya jika memandang hakikat
ketelanjangan wanita.
Bayangkan,
cahaya matahari saja sudah sungguh-sungguh menerangi dan lalu menghidupi
seluruh bumi, bahkan menembus ke palung-palung laut dan hingga planet terjauh
di tatasurya ini. Apapun yang dilalui sinar matahari akan sumringah menjadi
tumbuh, hijau dan ranau. Tak ayal, matahari yang kerap memata-matai hari
ditabalkan sebagai lambang kehidupan, harapan akan kemakmuran. Lantas,
bagaimana dengan wanita? Wanita dan pusat kosmos kelaminnya adalah kehidupan
itu sendiri. Kelahiran dan kematian manusia, sejarah yang terjarah, kemajuan
dan kemunduran, semua berawal dari rahim wanita. Itulah mengapa Tuhan memilih
memantulkan terang cahaya dan cerlang sinarnya yang paling paripurna pada
wanita, bukan lelaki.
Sama dengan
cahaya yang dititipkan Tuhan pada matahari berupa sinar ultraviolet, cahaya
wanita juga bisa menjadi rahmat dan malapetaka. Anda perhatikan, misalnya,
manakala pabrik-pabrik, rumah-rumah kaca dan gedung-gedung pencakar langit yang
congkak tak mampu "mengelola" kemurahan cinta-kasih cahaya matahari,
malapetaka berupa polusi, pemanasan global, radiasi dan rusaknya lapisan ozon
akan terjadi. Pun juga dengan wanita, cahaya dari rahim yang terpancar ke sekujur
tubuh perempuan adalah rahmat dan pantulan cahaya Tuhan. Lantas?
Cahaya wajah
cantik, cahaya dada yang elok, cahaya paha yang anggun, semua berasal dari
cahaya gua garba atau kelamin wanita yang benderang. Tuhan telah merancang
sperma, labia mayor, klitoris, rahim, ovum, zigot, sampai manjadi manusia
sempurna. Dan lalu Tuhan memuliakan kaum Hawa dengan mempercayakan mereka
mengandung dan menanggung segala derita demi kelahiran manusia-manusia luhur
atau sekadar pembabaran para begundal dan bromocorah. Di rahim kokoh penuh
cerlang gemilang itulah nasib-nasib umat manusia ditentukan, ditiupkan roh suci
Tuhan, sampai-sampai cahaya wanita-wanita hamil mengalahkan terang purnama.
Pantas, jika
kaum pria memperebutkan dan rela menyabung nyawa demi wanita, itu semata karena
cahaya dari "pusat kosmos" bernama rahim, yang di permukaan hanya
tampak sebagai vagina, terutama bagi mata-mata jalang yang kerap serampangan
dan ugal-ugalan. Tapi, apakah pembahasan ini tidak lantas melecehkan Tuhan
dengan kelamin dan selangkangan?
Baiklah,
begini mulanya. Wanita mewakili keindahan Tuhan, sementara itu, lelaki hanya
bertugas membaca, menerjemah dan menafsirkan keindahan itu dalam kehidupan
sosial dan konstelasi budaya.
Tuhanlah yang
merancang dan menciptakan serta lalu memberi cahaya pada kelamin wanita beserta
rimbun misteri yang melingkupinya. Tuhan meninggikan derajat wanita jika ia
menjaga "nukleus" itu dan sebaliknya wanita akan lebih rendah dari
setan dan binatang jika mengumbar "titipan cahaya" itu di sembarang
tempat. Oleh karena itu, tidak ada ruang pornografis dalam tulisan ini,
mangapa? Porno itu terjadi kalau Anda dan semua pria salah tafsir soal wanita,
terutama anatomi fisiknya. Mengapa salah tafsir? Tentu saja karena keliru dalam
meramu dan memaknai hakikat cahaya (keindahan) dengan realitas kegelapan
(nafsu). Sekali lagi, berhati-hatilah menjadi panafsir.
Kita tentu
masih ingat betapa peringatan Tuhan justru berbunyi, "jangan dekati
zina" dan bukan, "jangan berzina!" Artinya, zina itu akibat dari
perbuatan mendekati. Mendekati dengan apa? Dengan segala kreativitas budaya
manusia yang mengorientasikan segala kemungkinan untuk berzina: baik dengan
wanita, kebudayaan, dengan agama, dengan sejarah, peradaban dan bahkan berzina
dengan tanah-airnya sendiri, sehingga lahirlah malapetaka-malapetaka sistemik
dan reproduksi keculasan-keculasan yang hipokrit.
Wal hasil,
penafsir-penafsir modern dan milenial ini cenderung ugal dan serampangan: pria
gagal dan salah tafsir terhadap wanita, sementara wanita salah tafsir soal diri
dan cahayanya sendiri. Tiba-tiba, kita mendapati para pemuja selangkangan di
mana-mana. Dan, sejarah serta peradaban modern kita dewasa ini adalah tentang
selangkangan.
Salam Takzim
